Make your own free website on Tripod.com


Bila Gizi Cukup, tak Perlu Suplemen

Artikel pada Harian Kompas, Minggu 14 April 1996
http://www.kompas.com/9604/14/IPTEK/bila.htm
 

MEMANG tak mudah hidup di zaman modern ini. Berbagai isu tidak menyenangkan selalu muncul di koran, majalah, radio atau televisi. Ada pemanasan Bumi dan perubahan iklim, berlubangnya lapisan ozon sehingga radiasi ultra violet dari matahari menembus atmosfer Bumi, rusaknya hutan, maupun polusi tak terkendali.

Banyak penelitian membuktikan, perubahan iklim menyebabkan kondisi tubuh yang harus setiap saat menyesuaikan diri, kerusakan hutan membuat penyebab penyakit baru bermunculan, radiasi ultra violet mencetuskan kanker kulit, dan polusi tak terkendali menimbulkan berbagai penyakit berbahaya.

Asap rokok bisa mencetuskan kanker, penyakit kardiovaskuler, bronkhitis, emfisema, sampai sindrom berat badan lahir rendah. Sementara polusi udara akibat industri seperti dioksin misalnya, bisa menyebabkan kemandulan.

Tentu saja para ahli juga tidak berhenti sampai penemuan ini. Penelitian lanjutan menunjukkan ada beberapa cara bisa dilakukan untuk menghindari dampak modernisasi ini. Mulai dari upaya perbaikan lingkungan global sendiri yaitu mengendalikan gas rumah kaca penyebab pemanasan Bumi dan gas penyebab berlubangnya lapisan ozon, mengendalikan penebangan hutan, pencemaran, sampai mengkonsumsi makanan bergizi dan segala macam vitamin.

Banyaknya hasil penelitian menyatakan konsumsi vitamin - terutama C dan E - yang cukup bisa membantu melindungi dan mempertahankan sel tubuh dari "segala bencana" kesehatan misalnya, ternyata juga membawa dampak lain.

Para produsen obat dengan cepat menangkap fenomena ini dengan menawarkan berbagai jenis makanan kesehatan dan vitamin, termasuk vitamin C yang begitu gencar diiklankan. Bahkan yang terakhir, muncul iklan vitamin C yang salah satu rantai kimianya diganti ester dan dikenal sebagai ester C, dengan klaim lebih manjur, lebih lama bisa dimanfaatkan tubuh, tidak berdampak samping bagi lambung, dan tentu saja dengan harga beberapa kali lipat lebih mahal.

Bagaimanakah Anda sebagai konsumen menyikapi hal ini? Apakah betul di zaman modern ini manusia masih membutuhkan suplemen vitamin di samping menu makannya setiap hari kalau ingin tetap sehat?

***

SESUNGGUHNYA, manusia memiliki mekanisme tubuh cukup kokoh untuk melawan berbagai serangan dari lingkungan di sekitarnya. Namun mekanisme ini dipengaruhi berbagai faktor seperti masukan zat gizi, usia, kesibukan, stres, maupun kegiatan yang sangat menguras tenaga fisik dan mental. Bila salah satu faktor ini tidak lagi seimbang proporsinya pada tubuh, maka daya tahan tubuh akan melemah.

Mekanisme pertahanan itu sendiri berlapis mulai dari bagian luar sampai ke dalam tubuh. Selain kulit yang melindungi seluruh tubuh, juga ada lendir di setiap bagian yang memungkinkan gangguan masuk ke tubuh seperti hidung, mulut, mata, telinga dan bahkan juga saluran pembuangan. Ini semua untuk melindungi tubuh dari berbagai ancaman luar.

Kalaupun ancaman itu berhasil "menyelundup" ke dalam masih ada mekanisme berikutnya berupa sistem kekebalan tubuh yang bekerja berdasarkan interaksi berbagai organ dan sel darah putih. Semua aktivitas pelindung tubuh ini, tentu saja erat berkaitan dengan status gizi. Mereka yang kurang gizi tentu saja akan rentan penyakit.

Gizi bila ditarik lagi tentunya berkaitan dengan masukan mikronutrien dan makronutrien. Vitamin C sebagai salah jenis mikronutrien, memang sudah lama dikenal peranannya dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Menurut mantan Kepala Puslitbang Gizi Prof Dr Darwin Karyadi yang sekarang menjadi anggota Dewan Riset Nasional, vitamin C terbukti bisa membentuk interferon di dalam darah yang berfungsi antivirus dan meningkatkan imunoglubolin. "Ini salah satu hal yang menyebabkan daya tahan tubuh meningkat," paparnya.

Di sisi lain, ternyata vitamin C (juga vitamin E, A dan karotenoid) juga bersifat antioksidan dan menekan radikal bebas merajalela. Dalam teori radikal bebas yang berkembang pada dekade 1960-an, polusi industri, knalpot, asap rokok, bisa menghadirkan radikal bebas, suatu molekul yang tidak berpasangan, di dalam tubuh.

Molekul ini dalam proses oksidasi sangat potensial merusak protein, DNA, RNA, asam lemak, dan berbagai struktur sel lainnya. Sebagai antioksidan, vitamin C berfungsi mencegah terjadinya proses oksidasi.

Dengan demikian, vitamin C maupun vitamin lainnya memang banyak bermanfaat untuk tubuh manusia. Masalahnya, berapa banyak dan berapa sering segala macam vitamin ini diperlukan?

***

DALAM hal ini Darwin Karyadi menyatakan, segala hal yang berlebihan tidak baik bagi tubuh. "Kebutuhan gizi maupun suplemen vitamin, tidak bisa dihantam kromo sama bagi setiap orang," paparnya.

Meski ada rekomendasi umum yang standar, 60 mg vitamin C untuk tiap orang dewasa per hari, sebenarnya kebutuhan ini harus dipilah lagi sesuai keadaan individual. Beragam tambahan vitamin, barulah diperlukan pada keadaan luar biasa.

"Orang yang bekerja keras melebihi takaran biasanya, sedang stres berat, bepergian, berolahraga berat, sakit, atau lanjut usia, termasuk yang luar biasa. Merekalah yang membutuhkan vitamin melebihi standar," kata Darwin. Mereka yang terpapar lingkungan yang tak sehat - kota tempat tinggalnya terpolusi, kantornya penuh asap rokok, AC tidak terawat sehingga menjadi sarang jamur - juga perlu tambahan berdosis tinggi.

Namun Darwin mengingatkan, jumlah di atas standar ini pun ada ukurannya, yaitu 1-2 gram per orang dewasa per hari. "Maksimal tiga gram," tambahnya. Bila berlebihan, malah dampak negatif yang dirasakan. Sebuah literatur menyebutkan, kelebihan vitamin C bisa menimbulkan kerusakan pada ginjal, sakit perut, dan diare.

Saat ini, memang ada ester C yang aman bagi lambung maupun pengidap mag karena salah satu rantai kimianya diganti ester atau garam. Namun, konsumsi berlebih tetap tidak disarankan.

Bahkan senada dengan Darwin Karyadi, Prof dr Iwan Darmansjah dari FKUI justru menganjurkan menu makan sehat dan istirahat cukup dan teratur. Juga bagi yang sedang terserang flu. Mereka yang pola makannya sudah empat sehat lima sempurna, tak perlu membuang uang untuk membeli suplemen gizi.

Bapak kedokteran, Hipocrates, dalam metode penyembuhannya juga selalu menekankan pengoptimalan makanan dulu, baru kemudian obat. "Jadi bila sekarang banyak vitamin ditawarkan dengan berbagai kehebatannya, itu lebih bersifat promotion gimmick (tipu daya promosi, Red) saja," kata Iwan. (nes)


 artikel pagi