Make your own free website on Tripod.com
Kompas Online


Kamis, 22 Januari 1998

Waspadai Masuknya Produk Pangan Rekayasa Genetika

Jakarta, Kompas

Saat menghadapi krisis perekonomian seperti ini dan banyaknya tawaran bantuan pangan, Indonesia harus mewaspadai masuknya produk pangan hasil rekayasa genetika, terutama kedelai, yang di-dumping oleh negara maju.Demikian diingatkan oleh Dr Vandana Shiva, ilmuwan dari India, hari Rabu (21/1).

Menurut Vandana Shiva, Direktur Research Foundation for Science Technology and Natural Resource Policy, bisa saja bantuan-bantuan pangan yang diberikan berupa produk pangan hasil rekayasa genetika yang sudah ditolak di Eropa maupun negara maju lainnya.

Ia menyampaikan pendapatnya itu usai diskusi rekayasa genetika dan keamanan hayati di Dunia Ketiga, yang diselenggarakan oleh Konphalindo di Jakarta. Hadir juga sebagai pembicara Dr Mae Wan Ho, Dr Tewolde Egzaiber, dan sejumlah pakar bioteknologi dari Indonesia.

Indonesia adalah negara pengimpor kedelai. Setiap tahun ratusan ribu ton kedelai masuk ke Indonesia, sebagian besar dari Amerika Serikat. Tidak ada yang tahu apakah kedelai yang diekspor itu hasil produksi tanaman kedelai sudah direkayasa gennya atau tidak.

"Karena pemerintah Indonesia sulit menolak produk itu dengan alasan perdagangan, pemerintah Indonesia bisa menolak dengan alasan etika atau sosial-budaya," katanya.

Jika masih tidak bisa, "Indonesia harus mengeluarkan ketentuan supaya pengapalan kedelai hasil rekayasa genetika itu terpisah dengan produk yang bebas rekayasa genetika," kata Shiva.

Vandana Shiva mengungkapkan kedelai produk Monsanto yang mengandung gen ketahanan herbisida Roundup (juga produk Monsanto), ditolak di Eropa dan negara maju lainnya termasuk Amerika Serikat.

"Mungkin saja produk itu di-dumping atau disertakan dalam paket bantuan ekonomi ke negara berkembang yang menghadapi krisis ekonomi," tambahnya.

Protokol

Persoalannya sekarang, apakah Indonesia sudah siap dengan segala konsekuensinya, menerima produk pangan atau makhluk hidup hasil rekayasa genetika (GMO-genetically modified organism)?

Menurut Effendy Sumardja, Asisten Menteri Negara Lingkungan Hidup, yang menjadi moderator dalam diskusi kemarin, Indonesia menyadari perlunya protokol keamanan hayati di tingkat internasional dan tingkat nasional.

Pada Konperensi Para Pihak II Konvensi Keanekaan Hayati di Jakarta sudah disepakati pada Desember 1998 ini harus disetujui Protokol Keamanan Ha-yati (Biosafety Protocol).

"Sekarang ini pembahasan rancangan protokol keamanan hayati sudah sampai pada tahap konsolidasi. Indonesia perlu terus mengikuti pembahasan rancangan protokol itu," kata Effendy yang terlibat langsung dalam perumusan rancangan protokol itu.

Pada tingkat nasional, Kantor Menneg LH telah memprakarsai membentuk Kelompok Kerja Keamanan Hayati tahun 1996 untuk menyusun peraturan keamanan hayati tingkat nasional sebagai peraturan payung. Kemudian, menurut Effendy, setiap sektor akan membuat peraturan sendiri sebagai prinsip jaga-jaga (precautionary principle).

Sampai saat ini rancangan peraturan nasionalnya masih dalam proses di Kantor Menneg LH untuk persiapan diajukan melalui Sekretaris Negara. Peraturan tingkat nasional ini juga direncanakan selesai Desember 1998.

Mengapa waspada

Mengapa munculnya produk pangan hasil rekayasa genetika harus diwaspadai? Kalau produsennya-antara lain, perusahaan kimia Monsanto dan Ciba Geigy-berpendapat tanaman pangan yang sudah direkayasa bisa memberi makan lebih banyak manusia, lebih murah produksinya, lebih efisien, maka para pencinta lingkungan berpendapat lain.

"Janji-janji itu tidak sebanding dengan bencana yang akan timbul jika tanaman hasil rekayasa dilepas ke alam atau produk tanaman itu dimakan manusia," kata Shiva.

Tidak ada yang menjamin gen asing dari tanaman itu tidak berpindah ke tanaman asli dan terus disebarkan ke tanaman lainnya. Tidak ada jaminan apakah mengkonsumsi pangan yang mengandung gen asing aman untuk jangka panjang. Karena itu sangat diperlukan protokol keamanan hayati yang menjadi pedoman pemanfaatan makhluk hasil rekayasa manusia itu. (sur)